62 Juta Pemuda untuk Mengguncang Semesta

62 Juta Pemuda untuk Mengguncang Semesta

Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 jumlah pemuda (anak muda) dengan rataan usia 16-30 tahun, mencapai 62,4 juta orang. Itu artinya, rata-rata jumlah pemuda 25 persen dari proporsi jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan. Jika Bapak Proklamator Indonesia, Ir. Sukarno pernah berujar, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”, lantas bagaimana dengan 62,4 juta pemuda ? Rasanya bukan hanya dunia yang bisa diguncang, tapi juga langit.

 

Pada tahun 2012, Bappenas mendengungkan sebuah fenomena bernama “Bonus Demografi”, sebuah fenomena yang artinya adalah ketika sebuah negara memiliki jumlah penduduk usia produktif yang lebih banyak dibanding jumlah penduduk dengan usia non-produktif. Tentu saja ini merupakan suatu berkah. Melimpahnya jumlah penduduk usia produktif akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Imbasnya adalah meningkatkannya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

 

Pertanyaannya kemudian adalah apakah para pemuda telah siap dalam menghadapi fenomena ini? Bonus demografi bukan hanya soal kuantitas yang semakin besar, melainkan juga kualitas yang dituntut untuk semakin tinggi. Semakin banyak jumlah penduduk usia produktif yang ada maka akan semakin ketat pula persaingan yang akan dihadapi kaum muda dalam hal mencari lapangan kerja. Belum lagi wacana Masyarakat Ekonomi Asean 2015 yang akan menuntut kompetensi pemuda di level internasional. Kalau pun lapangan pekerjaan tersedia, mampukah sumber daya manusia yang melimpah ini bersaing di dunia kerja dan pasar internasional ?

 

Berkaca dari fakta yang ada sekarang, indeks pembangunan manusia atau human development index (HDI) Indonesia masih rendah. Dari 182 negara di dunia, Indonesia berada di urutan 111. Sementara dikawasan ASEAN, HDI Indonesia berada di urutan enam dari 10 negara ASEAN. Posisi ini masih di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei dan Singapura. Tingkat HDI ini terbukti dari tidak kompetitifnya pekerja Indonesia di dunia kerja, baik di dalam ataupun luar negeri. Paling sering terdengar adalah kasus pekerja Indonesia di luar negeri adalah menjadi asisten rumah tangga. Ujung-ujungnya mereka mendapat perlakuan kurang baik dari majikan, bahkan tak sedikit yang mengalami penyiksaan hingga meregang nyawa. Untuk tingkat dalam negeri sekali pun, pekerja Indonesia masih kalah dengan pekerja asing. Hal ini ditandai dari banyaknya peluang kerja dan posisi strategis yang malah ditempati tenaga kerja asing.

 

Lantas bagaimana solusinya ? Dibutuhkan peran aktif pemerintah dalam memaksimalkan potensi sumber daya manusia berusia produktif ini. Pemerintah wajib mendukung serta menyiapkan sarana dan prasarana guna menciptakan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Sarana tersebut meliputi infrastruktur, kualitas pendidikan, dan kesehatan. Lalu dari sisi masyarakat, Indonesia memerlukan pemuda-pemuda yang kreatif, inovatif serta memiliki semangat untuk membangun negerinya. Alangkah baiknya jika para pemuda menjadi lebih aktif dalam membuka peluang, jangan hanya mengemis lapangan kerja kepada pemerintah. Jika pemerintah dan masyarakatnya mampu bersinergi dengan baik menghadapi fenomena bonus demografi ini, agaknya dunia dan langit harus bersiap-siap menghadapi guncangan bernama Indonesia. Selamat Hari Soempah Pemoeda !

 

 

About The Author

irfan pradana

1 Comment

Leave a Reply

THE MEDIA

WHO TALKING ABOUT US

ALWAYS HERE

CONTACT US

Our staff is happy to help you