Mengenal lebih dekat Augmented Reality

Mengenal lebih dekat Augmented Reality

Saya masih ingat pertama kali ‘bertemu’ dengan Augmented Reality. Sekitar dua tahun lalu, di acara Pasar Seni ITB 2014. Satu dari sekian banyak hal keren di Pasar Seni terbesar se-Asia Tenggara yang diadakan empat tahun sekali itu adalah Mata-mata Pasar Seni.

source: www.instagram.com/pasarseni2014

source: www.instagram.com/pasarseni2014

Dengan mengunduh aplikasi “Mata-Mata Pasar Seni” pada ponsel, pengunjung sudah dapat menyulap kamera ponselnya menjadi sebuah ‘mata ketiga’ yang dapat melihat objek-objek tersembunyi di beberapa titik tertentu di Pasar Seni. Sayangnya, saya tidak bisa merasakan langsung sensasi melihat benda-benda maya tersebut karena aplikasi ini hanya bisa digunakan oleh pengguna android dan iOS. Namun, saya dapat melihat keseruan aplikasi ini dari mereka yang mencoba mengarahkan kamera ponselnya ke titik tersebut. Tiba-tiba muncul ikon Pasar Seni warna-warni yang bergerak-gerak.

Keren! Tapi agak horor.

Bagaimana bisa objek itu muncul dan terlihat di kamera? Padahal tidak ada apa-apa di tempat itu.  Ya, itulah Augmented Reality (AR).

AR adalah penggabungan benda-benda yang ada di dunia maya (virtual) ke dalam dunia nyata dalam bentuk dua dimensi ataupun tiga dimensi. Penggabungan ini kemudian dimaksimalkan dengan kemampuan berinteraksi secara langsung dengan objek tersebut. Sebelumnya, Snapchat memang telah mempopulerkan AR lewat Snapchat Lens. Namun, Snapchat Lens hanya sebuah fitur dalam aplikasi, bukan dasar dari aplikasi itu sendiri.

Saat ini mungkin Anda sudah tidak asing lagi mendengar istilah Augmented Reality karena kehadiran Pokemon GO. Seperti yang kita ketahui, Pokemon Go adalah game berbasis Augmented Reality (AR) yang menggunakan GPS. Pokemon Go bukan satu-satunya aplikasi yang menggunakan Augmented Reality sebagai konsepnya.

Bagaimanapun, AR bukanlah sesuatu yang baru. Ternyata, teknologi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1950an oleh Morton Heilig, seorang cinematographer. Teknologi AR juga sudah diimpikan sejak dulu dan sering muncul di film ataupun anime Jepang. Jika Anda mengikuti kisah Dragon Ball, kacamata yang digunakan untuk mengukur tenaga lawan oleh karakter di kartun tersebut adalah teknologi AR. Begitu juga film Hollywood seperti Minority Report (2003) yang menggunakan teknologi komputer AR, serta Iron Man 2 (2010) lewat asisten komputernya, Jarvis.

iron man

Imajinasi Augmented Reality tertuang dalam film

Pada tahun 2012, smart phone Nokia Lumia sudah memiliki aplikasi AR yang bernama Here City Lens yang mampu memberi informasi tempat terdekat di sekeliling penggunanya dengan mengarahkan kamera ke arah tertentu.

CityLens

Aplikasi Here City Lens 2012

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa Pokemon GO berperan mendongkrak kepopuleran Augmented Reality di kalangan masyarakat. Tanpa headset canggih seperti Oculus atau HTC Vive yang mengharuskan kita untuk memakainya selama bermain, Pokemon GO dapat dengan mudah diakses langsung dari smartphone Anda, ditemukan sedang menari di taman, atau bahkan di depan Anda.

Sekitar tahun 2011-2012, kebanyakan ponsel tidak memiliki kemampuan untuk memproses aplikasi Augmented Reality. Jadi wajar jika banyak orang yang tidak mengenal AR pada saat itu. Tapi sekarang, 2016, sudah banyak smartphone yang memiliki spesifikasi yang kompeten mampu menjalankan games yang memiliki grafik berat sekalipun, termasuk AR.

Teknologi akan terus berkembang. Tidak hanya mereka yang bergerak di bidang IT, kita juga punya kesempatan yang besar untuk ikut serta dalam mengembangkan teknologi ini.

About The Author

khairunnisa

No Comments

Leave a Reply

THE MEDIA

WHO TALKING ABOUT US

ALWAYS HERE

CONTACT US

Our staff is happy to help you