The Third Wave: An Entrepreneur’s Vision of the Future

The Third Wave: An Entrepreneur’s Vision of the Future

The Third Wave: An Entrepreneur’s Vision of the Future

Ceritanya seminggu yang lalu saya baru saja “membaca” (via Blinkist)  buku Steve Case yang berjudul The Third Wave: An Entrepreneur’s Vision of the Future. Bagi yang belum tahu, Steve Case adalah seorang Web dan Internet Pionir, dia salah seorang arsitek gelombang internet pertama. Dia mendirikan AOL tahun 80-an. Dia juga adalah CEO dari Revolution, sebuah perusahaan investasi di Amerika Serikat.

Buku ini menurut saya sangat menarik.  Steve memprediksi saat ini kita tengah memasuki satu babak baru dari sebuah revolusi teknologi informasi. Babak baru yang dia sebut sebagai gelombang ketiga (third wave).

Gelombang pertama terjadi pada periode tahun 1985-1999. Pada masa itu perusahaan-perusahaan seperti IBM, Microsoft, Apple dan AOL membuat pondasi dan infrastruktur untuk pengguna internet. Mereka membuat hardware, software dan networks sehingga internet bisa tersedia dalam kehidupan sehari-hari.

Gelombang kedua terjadi pada tahun 2000-2015. Google dengan search-engine-nya membantu kita untuk mencari informasi; Marketplace seperti Amazon dan eBay bermunculan; Social Media seperti Facebook dan Twitter mendorong penggunanya untuk terus saling berhubungan dan berkomunikasi; Revolsui smartphone yang dipimpin oleh iPhone dan Android membuat kita dapat mengakses internet kapanpun kita mau; Muncul juga beragam aplikasi seperti Snapchat, Instagram dan sebagainya.

Lalu apa itu gelombang ketiga?

Gelombang ketiga adalah masa kini dan masa depan. Gelombang ketiga adalah tentang integrasi internet ke dalam semua aspek kehidupan kita. Tidak terbatas pada komputer dan smarthone, Internet menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rumah, mobil, pertanian, dan tata kota yang kita punyai sekarang. Dalam konteks kesekarangan biasa kita sebut sebagai internet of things (IOT).

Masa kini adalah masa transisi menuju gelombang ketiga. Menurut Steve, sebagai entrepreneur kita harus dapat membaca peluang dan mengambil kesempatan atas hal tersebut. Berikut beberapa hal yang saya sarikan dari buku tersebut, yang rasanya patut jadi perhatian para entrepreneur masa kini :

1. Healthcare and food will be a major focus for third-wave entrepreneurs

Gelombang ketiga internet bukan tentang menciptakan game atau social media yang bisa menjadi heboh dan viral, melainkan tentang menjawab permasalahan rill dunia (real world problem). Salah duanya adalah pada bidang kesehatan dan pangan.

Sektor kesehatan -dan umumnya layanan publik- saat ini terkenal lambat, tidak efisien dan mahal. Problem industri pangan adalah tentang how we grow-raise-store-and-deliver the food effectively. Permasalahan dan tantangan inilah harus bisa dijawab oleh entrepreneur dengan inovasi.

2. Disruption is an inevitable part of the third wave companies must embrace in order to succeed.

Dalam kebangkitan gelombang ketiga, ide-ide akan selalu datang dari beragam tempat yang tak terduga. Ide-ide ini dapat menggeser dan mengubah paradigma lama. Pilihannya adalah kita yang menggeser atau kita yang digeser.

Hanya yang berani mengambil resiko, meninggalkan zona nyaman dan tidak meremahkan ide-ide baru lah yang bisa sukses.

3. Investor in the third wave will look at both the profit and the social impact of their investment.

Pemahaman impact investing akan semakin meningkat. Para investor gelombang ketiga adalah pebisnis (profit-driven) sekaligus filantropis (purpose/social-driven).

Bisnis yang menjadi tren adalah bisnis yang dapat mengangkat isu perubahan iklim, penciptaan lapangan kerja, dan kegiatan yang mendukung seni. Kickstarter adalah salah satu contoh public-benefit-company yang tepat. Misi mereka adalah menjadi global crowdfunding yang dapat merealisasikan ide-ide kreatif menjadi nyata.

4. The third wave will encourage innovation from geographically diverse places

Technology hubs seperti Silicon Valley atau pusat bisnis kreatif seperti London dan New York saat ini masih mempertahankan status quo sebagai pusat ide dan inovasi. Namun ini akan berubah, gelombang ketiga akan melahirkan “the rise of the rest. Kebangkitan inovasi akan datang dari beragam tempat di dunia ini.

Venture capitalist pun mulai menyadari hal tersebut, sehingga mereka mulai memperhatikan apa yang terjadi di tempat-tempat tak biasa. Indonesia dan Bandung mungkin juga salah satunya, nyatanya beberapa bulan terakhir saya secara pribadi bertemu dengan 3-4 venture capitalist luar yang ingin mulai penetrasi ke pasar Indonesia bahkan untuk seed-capital.

5. Building strong partnerships and credibility will be essential for third wave entrepreneurs.

Perusahaan-perusahaan gelombang kedua seperti Google dan Amazon, berhasil menguasai pasar dengan mengeluarkan produk yang populer secara masif sendirian. Namun kesuksesan metode ini tidak dapat terjadi pada perusahaan-perusahaan gelombang ketiga.

Seperti perusahaan-perusahaan pada gelombang pertama, perusahaan pada gelombang ketiga harus membangun kerjasama dengan industri yang telah eksis, seperti kerjasama Apple dengan IBM diawal. Jika tidak, maka industri yang telah eksis dapat menganggap perusahaan baru tersebut sebagai kompetitor dan malah menjegalnya.

Perusahaan gelombang ketiga harus membangun kerjasama dari awal untuk membangun kredibilitas dan mendapatkan momentum untuk sukses. Jadi ide dan produk yang bagus saja tidak cukup, mendapatkan partner yang tepat adalah kuncinya.

6. Working closely with the government will be especially important for future entrepreneurs.

Kesuksesan perusahaan gelombang ketiga tidak hanya bergantung pada menemukan partner yang tepat. Entrpreneur perlu juga bekerjasama dengan pemerintah karena pemerintah memegang peranan penting dalam inovasi dan regulasi.

Wajar bila kita berpikir bahwa bekerjasama dengan pemerintah adalah hal yang rumit, penuh dengan birokrasi dan merepotkan. Namun, jika kamu ingin merevolusi ide-ide tentang bagaimana cara meminjam uang atau crowdfunding, atau bagaiaman kita merubah food-waste menjadi energi, atau bagaimana agar self-driving-car dapat digunakan oleh semua orang, maka kedekatan dengan pemerintah adalah keharusan.

**
Itulah sedikit catatan saya dari buku The Third Wave. Bagaimana pendapatmu?

About The Author

panji prabowo

2 Comments

  • Tiyo Kamtiyono on September 17, 2016

    Menarik sekali membaca artikel ini dengan membayangkan beberapa film yang memiliki setting masa depan, dimana dunia merupakan sebuah tatanan masyarakat yang unified memiliki seorang leader atau sebuah federasi bersama i.e Asylum yang di bintangi Matt Damon dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Poin 5 menurut saya akan mengindikasikan jumlah perusahaan besar nantinya akan makin sedikit menurut saya, karena akan ada kerja sama satu sama lain, mungkin ada brand baru, tapi tetap saja orang – orang yang ada di belakangnya ya itu – itu saja. Untuk poin 6, apakah mungkin nanti akan ada banyak orang yang mengejar untuk tinggal di negara maju yang lebih fleksibel menerima dan memfasilitasi teknologi baru ya, karena kalau di negara asal rasa – rasanya apa yang dia perjuangkan tidak bisa menjadi nyata (seperti Ricky Elson misalnya).

    Salam kenal sebelumnya mas, baca2 TechInAsia sampai nyasar di sini nih 😀

Leave a Reply

THE MEDIA

WHO TALKING ABOUT US

ALWAYS HERE

CONTACT US

Our staff is happy to help you